Selasa, 04 September 2012

Hakikat dan ruang lingkup Sejarah


HAKIKAT DAN RUANG LINGKUP SEJARAH

Sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu Asy-Syajaroh, yang berarti Pohon.

Sejarah menurut para tokoh:
Aristoteles :
“Sejarah bergelut dengan yang partikular dan dengan apa yang aktual sudah terjadi.”

Tiga fungsi sejarah:
1.Fungsi Edukatif
2.Fungsi Inspiratif   
3.Fungsi Rekreatif

Lima tahap penelitian sejarah:
1.Pemilihan Topik
Langkah awal dalam penelitian sejarah adalah menentukan topik bahasan yang akan diteliti.
Penentuan topik harus mencakup 5W+1H (What,Where,When,Who,Why, dan How).
2.Heuristik
Heuristik adalah tahap pencarian sumber sejarah baik sumber lisan, tulisan atau benda. Selain itu, dikenal dua macam sumber, yaitu Sumber Primer dan Sumber Sekunder.
3.Verifikasi
Verifikasi adalah tahap mengkritisi sumber yang sudah didapatkan. Ada dua macam kritik, yaitu Kritik Ekstern dan Kritik Intern. Dari proses Verifikasi dihasilkan Fakta Sejarah.
4.Interpretasi
Interpretasi adalah tahap menafsirkan fakta-fakta sejarah yang sudah didapatkan. Penafsiran ini dapat dilakukan melalui Analisis dan Sintetis.
5.Historiografi
Historiografi adalah tahap menuliskan kembali suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah bentuk catatan sejarah


Intuisi
§ sering disebut dengan ilham, yaitu pemahan langsung & insting selama masa penulisan berlangsung. Dlm hal ini, cara kerja penulis sejarah, hamper sama dengan seorang seniman. Tetapi cara kerja penulisan sejarah, didasarkan pd data/fakta
Imajinasi
§ kemampuan membayangkan suatu peristiwa sejarah sesuai dengan kejadian yg sesungguhnya
Emosi
§ dlm pnulisan sej diperlukan penggunaan bahasa yg baik, bhs yg baik dlm pnulisan sej bukan berarti
Tiga aspek sejarah :
    1. Masa lampau : Merupakan fakta yang kekal dan abadi, tidk pernah berubah, serta selalu dikenang dan dibuatkan catatan
    2. Masa kini : Untuk dipahami setiap peristiwa sejarah dan bertujuan agar suatu peristiwa sejarah tidak terulang untuk kedua kalinya dalam peristiwa yang sama
    3. Masa yang akan datang : Peristiwa sejarah dapat dijadikan pandangan atau pedoman hidup suatu bangsa agar lebih berguna dan lebih berhati-hati, serta bijaksana dalam bertindak dan mengambil keputusan
  • Peristiwa sejarah merupakan :
    1. Peristiwa yang abadi : Peristiwa sejarah merupakan peristiwa yang tidak berubah-ubah dan tetap dikenang sepanjang masa dalam kehidupan manusia
    2. Peristiwa yang unik : Hanya terjadi satu kali dan tidak akan terulang untuk kedua kalinya
    3. Peristiwa yang penting : Dijadikan momentum atau peringatan karena mempunyai arti dalam menentukan nasib hidup orang banyak
  • Bermacam-macam sejarah menurut jenisnya :
    1. Sejarah sebagai peristiwa : Fakta-fakta kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau
    2. Sejarah sebagai kisah : Sejarah sebagai hasil penelitian oleh para ahli sejarah
    3. Sejarah sebagai ilmu : Pengetahuan tentang masa lampau yang disusun secara sistematik
    4. Sejarah sebagai seni : Sejarah sebagai petunjuk moral bagi para pembaca sehingga dalam penulisannya memerlukan seni tersendiri
  • Sejarah sebagai syarat sebagai ilmu :
    1. Sejarah memiliki objek kajian, yakni kejadian
    2. Memiliki suatu metode yang mampu menghubungkan bukti-bukti sejarah
    3. Kisah sejarah tersusun secara sistematis berdasarkan peristiwa awal kejadiannya
    4. Kebenaran fakta sejarah diperoleh dari penelitian sumber yang disusun secara rasional, tidak boleh ditambah atau dikurangi
  • Periodisasi adalah pembabakan sejarah dalam waktu yang digunakan untuk mengetahui peristiwa sejarah
  • Kronologi : Penyusunan sejarah berdasarkan urutan waktu
    Kronik : Catatan tentang waktu terjadinya suatu peristiwa sejarah
    Kronologi sejarah : Penyusunan peristiwa menurut atau sesuai urutan kejadian yang didasarkan pada urutan waktu
  • Kegunaan sejarah :
    1. Kegunaan edukatif : Sejarah memberi pelajaaran pengalaman yang pernah dilakukan pada masa sekarang atau sebelumnya
    2. Kegunaan inspiratif : Kisah sejarah memberi ilham, inspirasi kepada para pembaca dan pendengarnya
    3. Kegunaan rekreatif : Sejarah sebagai kisah dapat memberi hiburan yang segar, rasa kesenangan, dan rasa estetis 

TRADISIS MESYARAKAT INDONESIA SEBELUM MENGENAL TULISAN

A. Tradisi Masyarakat Sebelum Mengenal Tulisan
Dilakukan melalui tradisi lisan, dimana pengertian tradisi lisan itu sendiri adalah sebagai berikut.
Ø Tradisi lisan merupakan tradisi yang terkait dengan kebiasaan/ adat istiadat, menggunakan bahasa lisan dalam menyampaikan pengalaman sehari-hari dari seseorang kepada orang lain.
Ø Tradisi lisan dapat juga diartikan sebagai penggungkapan lisan dari satu generasi ke generasi yang lain,dst.

Tradisi sejarah masyarakat sebelum menggenal tulisan merupakan tradisi dalam mewariskan pengalaman masa lalu serta pengalaman hidup sehari-hari yang terkait dengan adat istiadat, kepercayaan, nilai moral pada generasi mereka sendiri dan generasi yang akan datang melalui tradisi lisan, peringatan-peringatan berupa bangunan serta alat hidup sehari-hari. Tradisi lisan mengandung kejadian-kejadian sejarah, nilai-nilai moral, keagamaan, adat istiadat, cerita khayalan, peribahasa, lagu dan mantra, serta petuah leluhur.

Tradisi lisan ada sejak manusia memiliki kemampuan berkomunikasi meskipun belum mengenal tulisan tetapi mereka telah mampu merekam pengalaman masa lalunya.

Sebagai contoh tradisi lisan:
Aktivitas bercocok tanam sampai sekarang masih ada karena diwariskan secara bertahap dan turun temurun dari nenek moyang kita kepada generasi selanjutnya.
Aktivitas membuat gerabah yang mulai dikenal pada masa bercocok tanam yang semakin berkembang, Bagaimana cara mereka mewariskan keahliannya?

1. Cara Masyarakat Mewariskan Masa Lulunya
Proses pewarisan kebudayaan pada masyarakat yang eblum mengenal tulisan dilakukan melalui keluarga dan masyarakat atau orang lain disekitarnya.
a. Keluarga
Penggenalan dilakukan dari hal-hal sederhana yang mudah dipahami seperti:
· aspek-aspek material (benda buatan manusia yang dapat diraba dan dilihat)
· hingga proses pengenalan yang lebih rumit yaitu kebudayaan non material (kepercayaan, nilai, norma, dan bahasa).

Pewarisan tersebut dilakukan dengan cara sosialisasi adat istiadat/kebiasaan baik secara:
§ langsung (secara lisan diberitahukan mengenai tradisi dan adat istiadat yang berlaku)
§ tidak langsung (dengan memberi contoh dalam hal perilaku sehari-hari).
§ Selain disampaiakan secara lisan, juga dilakukan melalui cerita atau dongeng (sebab dalam dongeng disisipkan pesan-pesan mengenai nilai-nilai atau sesuatu yang dipandang baik untuk dilakukan maupun mengenai sesuatu yang dipandang tidak boleh dilakukan.
b. Masyarakat
Masyarakat merupakan sekelompok orang yang memiliki kesamaan budaya, wilayah identitas, dan berinteraksi dalam suatu hubungan sosial yang tersetruktur.

Masyarakat mewariskan masa lalunya melalui:
Ø Tradisi dan adat istiadat (nilai,norma yang mengatur perilaku dan hubungan antar individu dalam kelompok).
Adat istiadat yang berkembang di suatu masyarakat harus dipatuhi oleh anggota masyarakat di daerah tersebut. Adat istiadat sebagai sarana mewariskan masa lalu terkadang yang disampaikan tidak sama persis dengan yang terjadi di masa lalu tetapi mengalami berbagai perubahan sesuai perkembangan zaman. Masa lalu sebagai dasar untuk terus dikembangkan dan diperbaharui.
Ø Nasihat dari para leluhur, dilestarikan dengan cara menjaga nasihat tersebut melalui ingatan kolektif anggota masyarakat dan kemudian disampaikan secara lisan turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Ø Peranan orang yang dituakan (pemimpin kelompok yang memiliki kemampuan lebih dalam menaklukkan alam) dalam masyarakat.
Contoh:
Adanya keyakinan bahwa roh-roh harus dijaga, disembah, dan diberikan apa yang disukainya dalam bentuk sesaji.
Pemimpin kelompok menyampaikan secar lisan sebuah ajaran yang harus ditaati oleh anggota kelompoknya.
Ø Membuat suatu peringgatan kepada semua anggota kelompok masyarakat berupa lukisan serta perkakas sebagai alat bantu hidup serta bangunan tugu atau makam. Semuanya itu dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya hanya dengan melihatnya.
Contoh:
Benda-benda (kapak lonjong) dan berbagai peninggalan manusia purba dapat menggambarkan keadaan zaman masyarakat penggunanya.
Ø Kepercayaan terhadap roh-roh serta arwah nenek moyang dapat termasuk sejarah lisan sebab meninggalkan bukti sejarah berupa benda-benda dan bangunan yang mereka buat.

Seperti:
Menhir (tugu batu), merupakan tugu peringgatan bagi generasi yang akan datang behwa di tugu tersebut terdapat arwah nenek moyang yang harus disembah.

Jejak-jejak Masa Lampau
Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa besar di dunia tidak terbentuk dalam waktu sekejap. Bangsa Indonesia memerlukan waktu ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun untuk dapat menjadi bangsa Indonesia seperti saat ini.
Wilayah nusantara yang terdiri atas ribuan pulau jelas memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Ada proses yang berbeda pada tiap wilayah dalam menciptakan kebudayaan dan karakteristik masyarakat.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau telah meninggalkan jejak-jejak sejarah. Jejak-jejak yang ditinggalkan tersebut berguna agar pertistiwa yang telah terjadi dapat diketahui atau disampaikan kepada generasi berikutnya. Jejak-jejak masa lampau dapat berupa artefak, dokumen, monumen, bangunan bersejarah, kebudayaan daerah, prasasti, maupun saksi-saksi sejarah.

A.Jejak-Jejak Masa Lampau yang Berupa Artefak Jejak-jejak masa lampau yang berupa artefak berasal dari jaman prasejarah dimana belum dikenal bukti-bukti berupa tulisan. Artefak merupakan benda-benda atau alat-alat hasil kebudayaan manusia yang terbuat dari batu, tanah liat, dan perunggu. B.Jejak-jejak masa lampau yang berupa dokumen
Peristwa-peristiwa penting di masa lampau ada yang berupa dokumen penting.Berikut ini adalah beberapa dokumen penting dari masa lampau.
1.Naskah teks proklamasi kemerdekaan indonesia
Naskah Teks Proklamasi ditulis tangan oleh Ir.Soekarno di rumah laksamana Tadashi Maeda. Naskah ini kemudian di ketik olah Sayuti Melik.
2.Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret)
Dokumen ini merpakan awal adanya orde baru di bawah pimpinan Soeharto. Dokumen ini menjadi salah satu sejarah penting bagi kehidupan bangsa indonesia.

C.Jejak-jejak masa lampau yang berupa monumen
Monumen merupakan bangunan yang di bangun dengan tujuan untuk membangkitkan kenangan atau kesan yang mudah terlupakan atas suatu peristiwa.Berikut ini adalah beberapa monumen yang ada di Indonesia.
1.MONAS (Monumen Nasional)
Monas berada di ibu kota Republik Indonesia yaitu Jakarta. Monumen ini di bangun untuk memperingati peristiwa–peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
2.Tugu Pahlawan
Tugu Pahlawan berada di Surabaya, Jawa Timur. Monumen ini dibangun untuk memperingati sekaligus mengenang semangat juang arek-arek Surabaya dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.
3.Monumen Tugu Muda
Monumen Tugu Muda berada di Semarang, Jawa Tengah. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang.
4.Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti terletak di Jakarta. Monumen ini dibangun guna mengenang para pahlawan Revolusi yang menjadi korban G 30 S/PKI.

D.Jejak-Jejak Masa Lampau yang Berupa Bangunan Bersejarah
Bangunan-bangunan bersejarah yang menjadi jejak-jejak masa lampau bangsa Indonesia berupa candi-candi maupun bangunan yang lain.
1.Candi-candi
a.Candi Kalasan
Candi Kalasan dibangun oleh Raka I Panang Karan dari kerajaan Mataram Kuno sebagai persembahan pada Dewi Tara.
b.Candi Jawi
Candi setinggi 24 m ini dibangun atas perintah Kertanegara, Raja Singosari. Candi ini difungsikan sebagai tempat pendharmaan Kertanegara.
c.Candi Borobudur
Candi setinggi 42 m ini dibangun atas perintah Raja Wisnu pada tahun 770 masehi dan selesai di tahun 842 masehi pada masa pemerintahan Samarattungga.
d.Candi Sumberawan
Candi ini dibangun sebagai penghargaan atas kunjungan Hayam Wuruk ke wilayah kaki Gunung Arjuna.

2.Bangunan Bersejarah Bercorak Islam
Nisan Makam Sultan Malik As-Shaleh
Makam Malik Al-Saleh merupakan bukti atau jejak sejarah yang menunjukan masuknya Islam di Indonesia
Masjid Agung Demak
Masjid Demak dibangun oleh Wali Songo. Bangunan cungkupnya (atap masjid) yang menyerupai Pura di Hindu menunjukan akulturasi budaya Islam dengan Hindu serta budaya lokal Indonesia
Masjid Kudus
Masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus.Bentuk bangunan masjid ini memiliki ciri khusus, yaitu bagian menaranya menyerupai Candi Hindu
Batu Nisan Ratu Nahrasiyah dari Samudera Pasai
Nisan ini berhiaskan kaligrafi kutipan surat yasin dan ayat kursi.

E.Jejak-Jejak Masa Lampau yang Berupa Prasasti
Prasasti merupakan peninggalan tertulis yang dipahatkan pada batu/logam.Terdapat kurang lebih 3000 prasasti telah ditemukan yang berasal dari zaman Indonesia klasik. Berikut adalah beberapa prasasti yang merupakan Jejak-Jejak Masa Lampau Bangsa Indonesia.

1.Prasasti Yupa
Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai. Huruf yang digunakan adalah huruf pallawa dan Bahasa Sansekerta. Prasasti dibuat atas perintah Raja Mulawarman.
2.Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun ditemukan di dekat muara Cisadane. Prasasti yang ditulis pada batu besar di sertai cap sepasang telapak kaki ini merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara.
3.Prasasti Tugu
Prasasti Tugu ditemukan di Desa Tugu Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini merupakan prasasti Tarumanegara yang terpanjang dan terpenting.

F.Jejak-Jejak Mas Lampau yang Berupa Kebudayaan
Bangsa Indonesia terdiri atas banyak suku. Tiap suku dari suatu daerah memiliki karakteristik dan kebudayaan yang berbeda dari suku daerah lain. Kebudayaan ini pun terbentuknya juga perlu proses.Berikut ini kebudayaan-kebudayaan daerah yang juga menjadi Jejak-jejak Masa Lampau bangsa Indonesia.
1.Upacara-upacara
a.Upacara Pembakaran mayat di Bali yang disebut Ngaben
b.Upacara Penguburan di Tebing
c.Upacara Perkawinan Suku Minangkabau yang menganut matrilineal
2.Lagu Daerah
a.Lir ilir
b.Cing Cangkeling
c.Cublak-cublak Suweng
3.Pakaian dan Perhiasan
4.Obat-obatan Tradisional
5.Kitab-kitab Kuno
a.Kitab Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh
b.Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca
c.Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular
d.Kitab Pararaton

G.Jejak-Jejak Masa Lampau yang Berupa Saksi-saksi Sejarah
Saksi sejarah adalah seseorang yang pernah melihat atau menyaksikan terjadinya suatu peristiwa, tetapi bukan orang yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Berikut ini saksi-saksi sejarah yang juga merupakan bagian dari jejak masa lampau.
1.A.H. Nasution
Beliau adalah jenderal yang lolos dari penculikan yang dilakukan oleh Dewan Jenderal bentukan PKI.
2.B.M. Diah
B.M. Diah merupakan salah satu saksi sejarah pada awal Kemerdekaan Indonesia.
3.Des Alwi
Des Alwi merupakan seseorang yang kerap mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto.
4.Ahmad Soebarjo
Ahmad Soebarjo adalah tokoh dari Golongan Tua yang berhasil meyakinkan Golongan Muda agar mau melepaskan Bung Karno dan Bung Hatta dari Rengasdengklok. Selanjutnya beliau juga turut andil dalam penyusunan Teks Proklamasi.
5.Chaerul Saleh
Chaerul Saleh merupakan tokoh dari Golongan Muda. Chaerul Saleh-lah yang mendengar berita kekalahan Jepang dari Radio BBC Inggris. Beliau dan teman-temannya melihatnya sebagai peluang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

H.Menulis Kembali Jejak-jejak Masa Lampau Bangsa Indonesia
Dalam menulis kisah sejarah dari jejak-jejak masa lampau dipilih topik untuk membatasi objek penulisan yaitu topik yang workable, artinya topik yang dapat dikerjakan dalam waktu dan biaya yang tersedia sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak terlalu luas/terlalu sempit. Pemilihan topik juga didasarkan pada :
a.Kedekatan Emosional
Kedekatan emosional akan memberikan dorongan yang besar bagi terselesaikannya penulisan sejarah.Begitu juga seseorang yang berkaitan dengan kota, organisasi,birokrasi, tokoh, peristiwa, dan perusahaan. Hal terpenting dalam pemilihan topik yang sedang dikerjakan diyakini berharga dan bermanfaat.
b.Kedekatan Intelektual
Seseorang yang memiliki kedekatan emosional juga akan memiliki kedekatan intelektual. Seorang yang tertarik terhadap masalah pedesaan, tentunya akan membaca buku apa saja yang berhubungan dengan desa, petani, tanah, geografi pedesaan, dan ekonomi pedesaan. Dengan demikian, seseorang tersebut sudah memiliki konsep tentang permasalahan penelitian yang akan dihadapi.



PRINSIP DASAR PENELITIAN SEJARAH

Diposkan oleh Purwo Budhi Raharjo di 04:10
A. METODOLOGI SEJARAH
Metodologi atau science of methods adalah ilmu yang membicarakan tentang cara. Dengan demikian metode sejarah adalah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tentang bahan, kritik, interpretasi dan penyajian sejarah. Dalam metodologi sejarah, disini diuraikan berbagai jenis penulisan sejarah, unit kajian, permasalahan, teori, konsep dan sumber sejarah.
Metode yang dipakai dalam penelitian sejarah mencakup empat langkah berikut:
1.Heuristik
Heuristik (heureskein dalam bahasa Yunani) adalah upaya mencari atau menemukan jejak-jejak sejarah (traces). Jejak sejarah sendiri adalah apa-apa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia (baik aktivitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya) pada masa lampau yang menunjukkan bahwa benar-benar telah terjadi peristiwa yang dimaksud. Dengan demikian upaya pencarian jejak-jejak sejarah berkaitan dengan penemuan bukti-bukti sejarah. Bukti-bukti tersebut selanjutnya dikelompokkan atau diklasifikasikan sesuai urutan waktu terjadinya peristiwa, kesamaan cerita, dan jenis sumbernya. Jadi heuristik adalah upaya mencari sumber atau bukti sejarah yang terkait dengan masalah atau peristiwa tertentu yang akan ditulis atau diteliti.

2.Kritik sejarah
Setelah jejak (bukti) atau sumber berhasil ditemukan, langkah selanjutnya adalah menyeleksi dan menguji jejak-jejak tersebut sebagai upaya untuk menemukan sumber sejarah yang sebenarnya (yang sesuai dengan yang diperlukan dan merupakan sumber yang asli atau autentik). Inilah yang dimaksud dengan kritik sejarah. Proses kritik sejarah itu sendiri meliputi dua hal. Pertama adalah kritik eksternal dan kedua adalah kritik internal.

a.Kritik eksternal
Kritik eksternal ditujukan untuk menjawab beberapa pertanyaan pokok berikut:
•Apakah sumber yang telah kita peroleh tersebut betul-betul sumber yang kita kehendaki.
•Apakah sumber itu sesuai dengan aslinya atau tiruannya
•Apakah sumber tersebut masih utuh atau telah mengalami perubahan.

b.Kritik internal
Dilakukan setelah dilakukan kritik eksternal. Kritik internal ditujukan untuk menjawab pertanyaan:
Apakah kesaksian yang diberikan oleh sumber itu memang dapat dipercaya.
Untuk itu yang harus dilakukan adalah membandingkan kesaksian antar berbagai sumber (cross examination).

3.Interpretasi fakta
Fakta-fakta sejarah yang berhasil dikumpulkan dan telah menjalani kritik sejarah perlu dihubung-hubungkan dan dikait-kaitkan antara satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga antara fakta yang satu dengan yang lainnya kelihatan sebagai suatu rangkaian yang masuk akal, dalam artian menunjukkan kesesuaian satu sama lainnya. Dengan kata lain, rangkaian fakta itu harus menunjukkan diri sebagai suatu rangkaian “bermakna” dari kehidupan masa lalu suatu masyarakat atau bangsa. Untuk tujuan tersebut (mewujudkan suatu rangkaian peristiwa yang bermakna) sejarawan atau penulis sejarah perlu memiliki kemampuan untuk melakukan interpretasi terhadap fakta. Dalam tahap inilah salah satu masalah krusial dalam historiografi muncul.
Ini terkait dengan objektivitas dan subjektivitas sejarawan. Masalah interpretasi berkaitan erat dengan dua hal ini.

4.Penulisan atau penyusunan cerita sejarah
Apabila ide-ide yang membangun keterkaitan antar fakta sejarah berhasil dirumuskan, melalui kegiatan interpretasi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penulisan atau penyusunan cerita sejarah. Dalam metodologi sejarah langkah-langkah ini disebut dengan historiografi.

B. PRINSIP SEBAB AKIBAT DALAM PENELITIAN SEJARAH

Dalam ilmu sejarah prinsip sebab akibat ini disebut dengan istilah determinisme atau historicisme. Prinsip sebab akibat ini menurut Sartono Kartodirjo (1993) pengertiannya adalah bahwa suatu peristiwa sejarah hendaknya diterangkan dengan melihat peristiwa sejarah yang mendahuluinya. Dengan kata lain semua akibat itu berawal dari adanya sebuah atau beberapa sebab yang sebelumnya terjadi.
Sebagai contohnya dapat dikemukakan tentang peristiwa pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di rumah kediaman pribadi Soekarno. Pertanyaan yang bisa muncul diantaranya adalah: bagaimana naskah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu dirumuskan? Mengapa naskah proklamasi kemerdekaan itu dibacakan dengan mengambil tempat di rumah pribadi Soekarno? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang dapat dikemukakan seputar pembacaan naskah proklamasi itu.
Menurut konsep sebab akibat sejarah bahwa suatu peristiwa sejarah diterangkan oleh peristiwa sejarah yang mendahuluinya. Dalam hal ini peristiwa sejarah yang mendahului pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan yang mengambil tempat di rumah pribadi Ir. Soekarno itu adalah peristiwa yang terjadi sebelumnya, yaitu perumusan naskah proklamasi yang mengambil tempat di rumah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, yang berada di Jl. Imam Bonjol 1 Jakarta. Di rumah Maeda hadir para anggota PPKI, tokoh-tokoh pemuda seperti Chairul Saleh, Soekarni, B.M. Diah, Soediro, Sayuti Melik, dan orang-orang Jepang dari Angkatan Darat, seperti Nishijima, Yoshizumi dan Myoshi.
Perumusan naskah proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo, yang disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah dan Soedirio. Soekarno menuliskan naskah proklamasi itu pada secarik kertas bergaris. Setelah mendapat kesepakatan bersama, maka naskah proklamasi tulisan tangan itu dibawa ke ruang tengah rumah Laksamana Muda Maeda. Naskah proklamasi itu kemudian diperdebatkan untuk mendapatkan kesempurnaan. Hal ini terbukti dari adanya tiga coretan, yaitu kata “pemindahan”, “penyerahan” dan “diusahakan”. Disepakati pula yang meandatangani naskah proklamasi kemerdekaan itu ialah Soekarno dan Hatta.
Pengetikan naskah proklamasi dilakukan oleh Sayuti Melik atas permintaan Soekarni. Sayuti Melik yang mengetik naskah proklamasi itu mengadakan tiga perubahan yaitu kata “tempoh” diganti menjadi “tempo”, sedangkan bagian akhir “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti dengan “atas nama bangsa Indonesia”.
Cara menulis tanggal diubah sedikit menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”. Naskah yang sudah diketik itu kemudian ditanda tangani oleh Soekarno dan Hatta dengan disaksikan oleh semua yang hadir di rumah Laksamana Muda Maeda.
Pembacaan naskah proklamasi itu disepakati pula akan dilakukan di rumah pribadi Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jl. Proklamasi 56) Jakarta, pada jam 10 WIB. Pemilihan tempat itu dengan maksud atau atas dasar pertimbangan keamanan dan supaya tidak menyinggung perasaan Saiko Sikikan (Panglima Angkatan darat ke-16 di Jawa) Jenderal Yuichiro Nagano dan Gunseikan (Kepala Pemerintahan) Jenderal Yamamoto, sebagai penguasa yang berkewajiban memelihara status quo di seluruh wilayah yang diduduki dengan melarang semua kegiatan politik sejak tanggal 16 Agustus 1945 jam 12 siang.

C. PRINSIP KRONOLOGI DALAM PENELITIAN SEJARAH

Pengertian kronologi disini mengandung dua maksud, yaitu berdasarkan urutan waktu dan berdasarkan urutan peristiwa atau kejadian. Dalam melakukan penelitian sejarah, seorang peneliti harus memperhatikan dua kaidah tersebut. Hal itu disebabkan karena sifat sejarah sendiri yang diakronik, yaitu memanjang dalam waktu yang berisikan tentang suatu peristiwa yang ditulis berdasakan proses terjadinya peristiwa tersebut dari misalnya tahun tertentu sampai tahun tertentu yang lain, baik dengan pola sebab akibat maupun akibat sebab. Dengan demikian peristiwa yang ditulis bersifat runtut.