Rabu, 07 November 2012

Mengelola Ekonomi Rumah Tangga


(Artikel ini pertama kali diterbitkan di Jurnal Nasional | Selasa, 12 Jul 2011)

Kepada Yth. Bapak Jaka
Pertama perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Haryanto dan saat ini saya bekerja di sebuah lembaga nirlaba di Jakarta. Saat ini saya sudah membuat komitmen kepada pacar saya untuk menikahinya meskipun belum ada kepastian waktunya. Pacar saya saat ini sedang mencari kerja.
Setelah membaca tulisan bapak di Jurnal Nasional tentang merencanakan pesta perkawinan, saya menjadi ingin tahu bagaimana sebaiknya mengelola ekonomi rumah tangga.
Sekian surat saya. Atas jawabannya saya mengucapkan terima kasih.
Haryanto – Jakarta Selatan
Saudara Haryanto, pertanyaan Anda mengingatkan saya pada sebuah resensi buku Home Economics: How Couples Manage Their Money. Menurut peresensi, buku tersebut ditulis oleh Jessica Grose dalam misi pribadinya mencari cara terbaik bagi diri dan suaminya dalam mengelola keuangan keluarga.
Dalam pencariannya, Grose membuat profil banyak pasangan dan menjelaskan cara mereka mengelola keuangan keluarga. Dari sini Grose mengidentifikasi tiga metode pengelolaan keuangan keluarga: Common Potters (menyatukan segalanya), Independent Operator(milikku milikku dan milikmu milikmu), dan Sometimes Sharer (di antara keduanya).
Metode common potters umumnya digunakan oleh keluarga dengan satu pencari nafkah utama yang juga menjadi pengambil keputusan dalam masalah keuangan keluarga. Sementara itu pasangannya menjadi pelaksana pengelola keuangan keluarga. Kebanyakan keluarga, khususnya dari generasi lama, menerapkan metode common potter.
Tapi zaman berubah. Sekarang, semakin banyak wanita juga bekerja. Bahkan bisa jadi si istri memiliki penghasilan yang sama dengan, atau bahkan lebih tinggi daripada suami. Di sisi lain, baik istri maupun suami ingin mempertahankan minat dan kepentingan pribadi selama menjalani kehidupan berumah tangga. Dalam kasus seperti ini, masuk akal bila baik si istri maupun suami menjadi independent operator.
Dalam hal ini baik si istri atau suami membagi tagihan keluarga atau mengalokasikan biaya rumah tangga secara merata. Intinya di sini, milikku adalah milikku dan milikmu adalah milikmu.
Namun menutut penelitian Grose, kebanyakan pasutri yang sama-sama bekerja menggunakan cara pengelolaan keuangan keluarga ketiga, yakni kombinasi dari cara pertama dan kedua. Di sini, pasutri menyatukan pembukuan tetapi menyisakan kebebasan sampai level tertentu kepada kedua pihak.
Mana yang lebih baik? Menurut Grose, tergantung pasangan dan kondisi keuangan mereka. Tampaknya mengelola ekonomi rumah tangga tidak jauh berbeda dengan mengelola perekonomian negara. Satu aliran ekonomi yang berhasil di satu negara tidak berhasil di negara lain. Begitu juga, cara pengelolaan keuangan keluarga yang cocok buat satu pasangan tetapi tidak cocok bagi pasangan lain. Mana yang lebih baik? Menurut Grose, tergantung pasangan dan kondisi keuangan mereka.
Agar isu terkait uang tidak mengganggu perkawinan, setiap pasutri sebaiknya sepakat tentang cara mengelola keuangan keluarga. Bahkan kalau perlu, dalam kondisi tertentu, pasutri dapat membuat perjanjian pranikah. (prenuptial agreement). Dengan adanya kesepakatan tersebut, pasutri akan memiliki waktu dan energi untuk memaksimalkan penggunaan kekayaan keluarga baik untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang, bukan bertengkar tentang uang.
Saudara Haryanto, seperti disinggung dalam kolom ini sebelumnya, pernikahan memberi peluang untuk menghasilkan sinergi. Hidup berpasangan dapat menggandakan pendapatan, jika istri juga bekerja. Di sisi lain, pengeluaran bisa lebih kecil (daripada kalau Anda dan istri hidup sendiri-sendiri). Bahkan perkawinan menciptakan peluang tambahan, seperti penurunan beban pajak penghasilan dan kenaikan skor kredit. Maka kalaupun tidak menjadi kaya, pernikahan dapat menciptakan stabilitas keuangan. Jika Anda mengalami masalah temporer, seperti kena PHK, penghasilan istri dapat menjadi sandaran
Faktanya, sisi finansial perkawinan juga dapat mengganggu perkawinan. Statistik di banyak negara menunjukkan bahwa uang adalah penyebab utama perceraian. (Saya belum pernah mendengar survei serupa di Indonesia). Sedikitnya isu terkait
keuangan dapat menjadi gangguan dalam bahtera rumah tangga. Beberapa isu tersebut antara lain:
1. Beban masa lalu. Kebanyakan orang menikah mempunyai beban keuangan bawaan seperti kredit mobil, kartu kredit atau beban keuangan lain, seperti memberi tunjangan keuangan kepada keluarga. Jika satu pihak memiliki utang lebih banyak dari yang lain, atau lebih buruk lagi jika pasangannya bebas utang. Kewajiban membayar utang dapat menjadi lahan subur utang perselisihan.
2. Kepribadian keuangan. Pasutri tanpa utang bisa berselisih soal uang. Penyebabnya adalah perbedaan kepribadian keuangan, yang dapat dikelompokkan menjadi 5 tipe: big spender (suka membeli barang mewah), saver (orang hemat), shopper (orang yang suka berbelanja), debtor (orang yang berani berutang) dan investor. Pembelian barang bermerek oleh big spender sering menjadi sumber keluhan pasangannya. Untuk menanganinya, semasa masih berpacaran, jujurlah ‘ ‘ tentang kepribadian Anda sehingga pasangan hidup mengetahui sejak dini sehingga dapat membantu mengatasi kecenderungan negatif dari kepribadian keuangan.
3. Power Play. Suami bekerja, istri tidak. Atau suami menganggur dan istri tetap bekerja. Atau suami-istri bekerja tetapi salah satunya memiliki penghasilan lebih besar dari yang lain. Orang tua di istri memiliki banyak uang dan orang tua si suami miskin. Berbagai ketimpangan di atas sering memunculkan permainan kekuasaan. Penghasil uang lebih banyak cenderung ingin mendiktekan prioritas pengeluaran. Salah satu solusinya: pasangan yang berpenghasilan lebih tinggi mendelegasikan keputusan pengeluaran ke pasangan berpenghasilan lebih rendah.
4. Keluarga besar. Keluarga besar dapat menjadi sumber perselisihan. Bayangkan situasi ini. Sebuah pasutri sudah menabung untuk membeli mobil baru. Pada saat yang sama, ibu si istri ingin ingin mengadakan hajatan, orang tua suami memerlukan dana tambahan untuk berobat. Kakak si istri, yang dulu turut membiayai sekolah si istri, kehilangan pekerjaan dan membutuhkan bantuan. Kakak si suami tidak dapat membayar uang kuliah anaknya. Kebutuhan keluarga sering berdampak langsung ke dompet sebuah keluarga. Bagaimana keluarga tersebut harus menangani masalah ini? Memiliki kebijakan yang disepakati di muka dapat membantu mencegah atau meminimalisasi masalah.
5. Anak-anak. Anak-anak sering menjadi sumber persoalan. Memiliki atau tidak memiliki anak (dan berapa?) adalah satu persoalan. Setelah memiliki anak, persoalannya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan mereka yang ragam dan nilainya terus meningkat. Masalah ini penting bagi keluarga yang menggunakan cara kedua dan ketiga.
6. Perselisihan pasutri soal keuangan umumnya terjadi ketika kondisi keuangan sedang ketat. Namun keberadaan aset, khususnya tentang cara memanfaatkan aset yang ada, juga dapat menjadi sumber perselisihan.
Saudara Haryanto, dengan mengenali jenis gangguan ini saya berharap Anda lebih baik dalam menyambut kehidupan berumah tangga.