Kamis, 20 Desember 2012

Struktur Jaringan Tubuh Cacing Pipih (Platyhelminthes)

- Platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata platy yang berarti pipih dan helminthes yang berarti cacing. Jadi, Platyhelminthes berarti cacing pipih. Cacing Platyhelminthes ada yang hidup bebas dan ada yang hidup sebagai parasit. Platyhelminthes yang hidup bebas banyak ditemukan di laut, beberapa hidup di air tawar, dan di tempat-tempat yang lembap. Tubuh cacing platyhelminthes lunak dan epidermisnya mempunyai silia. Platyhelminthes yang hidup sebagai parasit mempunyai lapisan kutikula, silia yang hilang jika sudah dewasa, mempunyai alat pengisap, dan mungkin memiliki kait untuk menempel.
Platyhelminthes adalah hewan triploblastik, artinya, sudah mempunyai tiga lapisan tubuh, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Namun, Platyhelminthes belum mempunyai rongga tubuh (selom). Dengan demikian, cacing pipih termasuk hewan triploblastik aselomata. Sesuai dengan namanya, bentuk cacing ini pipih seperti daun atau seperti pita. Struktur tubuh Cacing pipih memanjang pipih dorsoventral. Bagian tubuh Platyhelminthes dapat dibagi menjadi bagian anterior (depan/kepala), posterior (belakang/ekor), dorsal (punggung), ventral (perut), dan lateral (samping).
Sistem pencernaan cacing platyhelminthes belum sempurna karena hanya mempunyai mulut tanpa anus, ususnya hanya berupa rongga gastrovaskuler yang terletak di tengah tubuh. Cacing platyhelminthes tidak memiliki sistem peredaran darah. Cacing pipih pernapasannya dilakukan dengan seluruh permukaan tubuh, dan melalui rongga gastrovaskuler. Tubuhnya simetri bilateral. Beberapa contoh Platyhelminthes dapat dilihat pada Gambar 8.14.
Reproduksi Platyhelminthes dapat terjadi secara aseksual maupun seksual. Secara aseksual atau vegetatif, yaitu dengan cara pembentukan individu anak dari bagian tubuh individu induknya (Gambar 8.15).
tulbellariaReproduksi platyhelminthes secara seksual terjadi dengan perkawinan silang. Pada umumnya, cacing ini bersifathermafrodit, yang berarti dalam satu individu terdapat alat kelamin jantan dan betina. Akan tetapi, seperti telah disebutkan, perkawinan hanya terjadi antara dua individu yang berlainan. Playtyhelminthes dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria contohnya planaria, Trematoda contohnya Fasciola hepatica (perhatikan Gambar 8.16)danCestoda contohnya Taenia solium (Gambar 8.17).
Gambar 8.16 Cacing hati (Fasciola hepatica)Gambar 8.16 Cacing hati (Fasciola hepatica)
Berikut ini kita bahas daur hidup salah satu platyhelminthes yaitu Taenia solium. Reproduksi dan daur hidup Taenia solium dimulai dari lepasnya proglotid tua bersama feses dari tubuh manusia. Tiap ruas berisi ribuan telur yang telah dibuahi. Kemudian, ruas-ruas tersebut hancur dan telur yang telah dibuahi bisa tersebar ke mana-mana. Zigot terus berkembang membentuk larva onkosfer di dalam kulit telur. Jika telur termakan babi, kulit telur dicerna dalam usus, dan larva onkosfer menembus usus masuk ke pembuluh darah atau pembuluh limfe dan akhirnya masuk ke otot lurik. Di otot, larva onkosfer berubah menjadi kista yang terus membesar membentuk cacing gelembung (sistiserkus). Pada dinding sistiserkus berkembang skoleks. Jika seseorang memakan daging tersebut yang belum matang, kemungkinan sistiserkus masih hidup. Di dalam usus manusia yang memakannya, skoleks akan keluar dan akan menempel pada dinding usus, sedangkan bagian gelembungnya akan dicerna. Dari “leher”, kemudian akan tumbuh proglotid-proglotid. Selanjutnya, proglotid tua akan menghasilkan telur yang telah dibuahi. Untuk memperjelas daur hidup cacing ini, pelajari Gambar 8.17!
Gambar 8.17 Daur hidup Taenia Solium di dua inangnya (manusia dan babi)Gambar 8.17 Daur hidup Taenia Solium di dua inangnya (manusia dan babi)